Ini Peran Industri Kelapa Sawit Dalam Pengentasan Kemiskinan

1 April 2021, 18:58 WIB
Panen Kelapa Sawit / Gapki/

WARTA SAMBAS - Berdasarkan riset Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), perkebunan kelapa sawit mampu membangun daerah miskin dan terbelakang untuk menjadi sentra perekonomian baru.

Dikutip Warta Sambas dari Infosawit, sentra ekonomi baru ini tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Papua dan Papua Barat.

Baca Juga: Industri Kelapa Sawit Berkontribusi bagi Pemenuhan Pangan Indonesia

“Kelapa sawit membantu dunia dalam Sustainable Development Goals (SDGs) di bidang mengatasi persoalan kemiskinan,” ujar Dr.Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).

Hal ini diungkapkannya dalam Diskusi Webinar Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) yang bertemakan "Peranan Kelapa Sawit Dalam Pengentasan Kemiskinan Dan Mewujudkan Gratieks”, Rabu 31 Maret 2021.

Tungkot mengatakan, tiga jalur industri minyak sawit menolong kemiskinan dunia.

Pertama, jalur produksi melalui sentra perkebunan sawit. Kedua, jalur hilirisasi di negara importir minyak sawit. Ketiga adalah jalur konsumsi minyak sawit.

Setelah era bisnis HPH (Hak Pengusahaan Hutan ) berakhir, muncul kota mati atau kota hantu karena ekonomi tidak bergerak. Imbasnya, masyarakat setempat menjadi miskin.

“Disinilah, peranan kebun sawit rakyat yang merestorasi lahan eks HPH menjadi daerah produktif dan lestari secara lingkungan. Selain itu, perekonomian mulai bergerak dengan hadirnya perkebunan sawit,” jelas Tungkot.

Dari aspek ekonomi, terjadi nilai transaksi antara masyarakat kebun sawit dengan ekonomi di pedesaan dan perkotaan.

Nilai transaksi masyarakat kebun sawit dengan masyarakat perkotaan sebesar 202,1 triliun rupiah per tahun dan masyarakat kebun sawit dengan ekonomi pedesaan sebesar 59,8 triliun rupiah per tahun.

Pertumbuhan perkebunan sawit di setiap daerah berkontribusi menurunkan kemiskinan.

Kondisi serupa dialami oleh Malaysia, Thailand, Papua Nugini.

“Jadi, dimana ada perkebunan sawit disitu kemiskinan turun karena ada tenaga kerja yang masuk ke sana. Tumbuh pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Tungkot.

Begitu pula di luar negeri, ada kesempatan kerja yang tercipta di industri hilir negara importir sawit.

Baca Juga: PLN Perpanjang Masa Stimulus Listrik hingga Juni 2021

Penciptaan lapangan kerja mencapai 2,73 juta orang di negara tujuan sawit. Dari sisi income generating sebesar 38 triliun rupiah untuk program hilirisasi minyak sawit di negara importir.

“Kita (Indonesia) negara eksportir mampu meningkatkan kinerja sawit. Begitu pula di negara importir kesempatan kerja meningkat. Itu terjadi di India meningkat, China dan Uni Eropa,” ujar Tungkot kembali.

Devisa kelapa sawit tahun 2018 sebesar 240 triliun rupiah. Kelapa sawit mampu menjadi tulang punggung perekonomian nasional.***

Editor: Suryadi

Tags

Terkini

Terpopuler